Berpulangnya Sri Kresna dan Berakhirnya Sebuah Zaman

Senjakala Sang Awatara: Berpulangnya Sri Kresna dan Berakhirnya Sebuah Zaman

Di bawah langit Dwaraka yang perlahan menggelap, deburan ombak lautan terdengar lebih kelam dari biasanya. Tiga puluh enam tahun telah berlalu sejak padang Kurukshetra meminum darah jutaan ksatria. Selama itu pula, Sri Kresna, bermanifestasi sebagai Sang Pemelihara Semesta, memerintah dengan kebijaksanaan.

Namun, sebagai entitas yang terikat pada hukum keteraturan kosmis yang Ia ciptakan sendiri, Kresna tahu bahwa setiap panggung sandiwara memiliki penutup tirainya. Waktu untuk kembali ke rumah abadi-Nya di Vaikuntha telah tiba.

Bayang-Bayang Tiga Kutukan

Kepergian Sang Awatara bukanlah sebuah insiden kebetulan, melainkan konvergensi agung dari karma dan takdir yang telah dirajut bertahun-tahun sebelumnya. Kematian Kresna secara fisik didasari oleh tiga peristiwa besar yang mengikat wujud fananya:

Kutukan Ratu Gandari: Di tengah ratapan atas kematian seratus putranya (Kurawa), Gandari yang hancur hatinya mengutuk Kresna. "Wahai Kresna, sama seperti kaumku yang saling membantai, tiga puluh enam tahun dari sekarang, bangsamu akan musnah di tangan mereka sendiri. Dan kau, kau akan mati dalam kesunyian, di tempat yang sunyi, tanpa seorang pun di sisimu!" Kresna hanya tersenyum dan menerimanya dengan lapang dada.

Kutukan Resi Agung: Generasi muda Yadawa yang sombong mempermainkan para resi dengan mendandani Samba (putra Kresna) sebagai wanita hamil. Para resi mengutuknya agar melahirkan sebuah gada besi yang akan menghancurkan klan Yadawa. Gada itu dihancurkan dan dibuang ke laut, namun serbuknya tumbuh menjadi rumput Eraka berduri besi, dan satu serpihan tersisa ditelan ikan, yang kelak menjadi mata panah.

Anugerah dan Kutukan Resi Durwasa: Suatu ketika, Kresna melayani Resi Durwasa yang pemarah. Resi itu memerintahkan Kresna mengoleskan bubur manis (payasam) ke seluruh tubuh sang Resi dan tubuh Kresna sendiri. Kresna melakukannya, namun tidak mengoleskannya di telapak kakinya karena menganggapnya tidak pantas. Durwasa memberkahi Kresna agar tubuhnya kebal dari segala senjata, kecuali pada bagian telapak kakinya yang tidak terolesi.

Gugurnya Bunga-Bunga Dwaraka

Hari yang diramalkan itu pun tiba. Di pesisir pantai Prabhasa, bangsa Yadawa yang tengah berziarah justru tenggelam dalam pesta pora dan mabuk anggur. Akal sehat mereka dirampas oleh takdir.

Sebuah pertikaian kecil antara Satyaki dan Kritawarma meledak menjadi perang saudara yang mengerikan. Saat senjata mereka hancur, mereka mencabut rumput Eraka di sekitar pantai. Rumput itu seketika berubah menjadi gada besi sekeras baja di tangan mereka. Dalam hitungan jam, ksatria-ksatria terhebat Yadawa—putra, ayah, saudara, dan paman—saling bunuh hingga tak ada yang tersisa hidup.

Kresna berdiri dalam keheningan, menyaksikan wujud dari ilusi kosmis (Maya). Takdir kaumnya telah genap.

Kepergian Sang Kakak

Sebelum memulai perjalanan terakhirnya, Kresna mencari kakak kandungnya, Balarama, sang inkarnasi dari Ananta Shesha (Naga Penyangga Semesta). Kresna menemukannya duduk bersila di tepi samudra dalam kondisi meditasi terdalam.

Saat Kresna mendekat, sebuah pemandangan ajaib terjadi. Dari mulut Balarama, keluarlah seekor naga putih raksasa berkepala seribu. Naga itu meliuk anggun, membelah udara, dan masuk ke dalam gelombang lautan untuk kembali ke pangkuan semesta. Balarama telah meninggalkan tubuh kasarnya.

Kini, kutukan Gandari mencapai puncaknya. Kresna benar-benar sendirian di dunia ini.

Hutan Sunyi dan Pohon Keabadian

Sang Awatara berjalan perlahan menyusuri rimbunnya hutan Prabhasa. Angin berhenti mendesah, dedaunan berhenti berguguran. Seluruh alam seakan menahan napas, mengetahui bahwa Sang Sutradara Kehidupan sedang berjalan menuju akhir cerita-Nya.

Kresna menemukan sebuah pohon Banyan yang besar dan rindang. Di bawah bayang-bayangnya, Ia merebahkan diri dalam posisi Yoga Nidra. Ia menyandarkan tubuhnya, lalu mengangkat kaki kirinya dan menyilangkannya di atas lutut kanannya. Telapak kakinya yang berwarna merah muda bak bunga teratai pagi, satu-satunya titik kelemahan fisiknya, kini terekspos jelas.

Matanya terpejam, wajahnya memancarkan kedamaian absolut. Ia memusatkan kesadarannya pada wujud sejati-Nya.

Anak Panah Takdir

Di sudut lain hutan tersebut, seorang pemburu bernama Jara sedang mengendap-endap. Berhari-hari ia belum mendapatkan hasil buruan. Ujung panahnya terbuat dari sepotong besi tajam yang ia temukan dari perut seekor ikan—sisa kutukan dari pangeran Samba.

Dari kejauhan semak-semak, mata Jara menangkap sesuatu yang berwarna kemerahan. Dalam kelebat cahaya hutan yang remang, telapak kaki Kresna terlihat persis seperti telinga seekor rusa yang sedang bersembunyi.

Tanpa keraguan, Jara menarik tali busurnya ke dekat telinga, memfokuskan pandangannya, dan melepaskan anak panah tersebut.

> Whuush... Jleb!

Anak panah takdir itu meluncur membelah keheningan hutan dan menembus tepat di tumit Kresna.

Karma dari Zaman Treta Yuga

Mendengar suara gemerisik, Jara berlari mendekati buruannya. Namun, apa yang ia temukan membuat jantungnya berhenti berdetak. Di hadapannya, terbaring sosok agung yang mengenakan sutra kuning, dengan mahkota bulu merak di kepalanya. Pria itu adalah Sri Kresna, pujaan seluruh dunia.

Jara jatuh berlutut, wajahnya berlumuran air mata keputusasaan. Ia memukul-mukul kepalanya ke tanah.

kematian krishna
"Oh Tuhan! Apa yang telah hamba lakukan?! Hamba adalah makhluk paling hina! Hamba telah melukai Penguasa Alam Semesta. Bakarlah hamba dengan kemarahan-Mu!" ratap Jara.

Kresna membuka matanya. Tidak ada kemarahan di sana, hanya samudera kasih sayang yang tak bertepi. Ia tersenyum dan memberkati pemburu itu.

"Bangunlah, wahai Jara. Jangan tangisi apa yang telah terjadi. Engkau tidak bersalah, semua ini adalah putaran roda Karma." Suara Kresna terdengar menenangkan, mengusir ketakutan sang pemburu.

Kresna lalu menyingkap sebuah rahasia lintas zaman. "Ketahuilah, pada zaman Treta Yuga dahulu, Aku turun ke bumi sebagai Rama. Pada masa itu, Aku memanah seorang raja Wanara bernama Subali dari tempat persembunyian, tanpa ia menyadarinya. Kematiannya meninggalkan hutang karma. Dan engkau, Jara, adalah reinkarnasi dari Subali. Hari ini, engkau memanahku dari persembunyian. Lunas sudah hutang antara kita. Engkau telah membantuku menyelesaikan tugas-Ku di dunia fana ini."

Langit Menangis, Samudra Menelan

Mendengar hal itu, hati Jara diliputi kedamaian yang luar biasa. Ia menyadari kebesaran Tuhan yang tak pernah luput dalam menyeimbangkan neraca semesta.

Setelah melepaskan Jara, Kresna memanggil kereta surgawinya. Cahaya
terang benderang menyemburat dari tubuh-Nya, lebih terang dari ribuan matahari yang terbit bersamaan. Para Dewa dari kahyangan, dipimpin oleh Brahma dan Siwa, turun untuk menyambut Sang Pemelihara. Taburan bunga Parijata berjatuhan dari langit.

Dengan melepaskan tubuh fisik-Nya, jiwa luhur Sri Kresna membubung tinggi, menyatu kembali dengan alam spiritual yang abadi, Vaikuntha.

Di dunia, saat Kresna menghembuskan napas terakhirnya; Langit bergemuruh hebat, kilat menyambar tanpa hujan. Lautan di sekitar Dwaraka mengamuk. Gelombang raksasa bangkit dan menelan seluruh kota emas Dwaraka beserta isinya ke dasar samudra, menyembunyikannya untuk selamanya. Zaman Dvapara Yuga resmi tertutup. Bersamaan dengan kepergian sang Awatara, zaman kegelapan, pertikaian, dan kemerosotan moral—Kali Yuga—mulai menyelimuti bumi.

Meski wujud-Nya telah tiada, ajaran Bhagavad Gita yang Ia tinggalkan di tengah medan Kurukshetra tetap hidup abadi, menjadi pelita yang akan terus membimbing umat manusia menembus pekatnya malam Kali Yuga.

Designed by Kak Teyo | Publised by Pakdhe Teyo